Rabu, 04 Januari 2017

CERPEN UJIAN PRAKTIK

Dewasa Itu Pilihan
Pagi yang cerah. Matahari bersinar terang. Seperti biasa, pelajar memulai aktivitasnya di hari ini. Bahkan kebanyakan pelajar tak suka dengan hari ini. Hari Senin. Pelajar sering menjulukinya dengan Monsterday. Julukan ini berasal terjemahan hari Senin dalam bahasa Inggris yang artinya Monday. Kemudian di jadikan sebuah lelucon yang kini menjadi kata yang terkenal.
“ Bu, ada yang bisa Tatik bantu?” tanya seorang gadis.
“ Ini Nduk tolong angkat panci di atas kompor lalu letakan di meja sebelah sana,” pintanya dengan halus.
“Waduh, berat ya Bu. Isinya apa? “
“Tahu baso pesanan Bu Lurah. Siap – siap berangkat sekolah Tik, nanti kamu terlambat,” jawab sang ibu dengan penuh kelembutan.
Tatik adalah seorang gadis yang sopan dan penuh kelembutan. Sepertinya hal itu menjadi daya tarik yang tak semua orang punya. Ia kelas 12 sekarang. Ia berasal dari keluarga yang untuk mendapatkan sesuap nasi pun perlu keringkat yang berkantong – kantong. Tak ayal lelah dan peluh jadi makanan setiap detiknya. Gadis yang bertubuh ramping itu memiliki seoramg adik laki – laki bernama Bagus. Sekarang duduk di kelas 10. Satu sekolah dengan sang kakak.
“Bu, Bagus dan Mbak Tatik berangkat sekolah, ya? Assalamualaikum,” sambil mencium tangan sang ibu.
“Waalaikumsalam, Nak. Hati – hati, sing sregep sinaune, “ melambaikan tangan dengan goresan senyum manis di wajahnya.
Yang membosankan dari hari Senin yakni ketika upacara. Karena para siswa dipaksa untuk berdiri. Mengikuti upacara dengan khidmat. Tidak berkutik. Tentu ada yang menolak. Menolak dengan menciptakan banyak gerakan yang sebenenarnya justru malah memperburuk pemandangan. Ah anak SMA...
“Ayo semuanya diam! Upacara tidak akan dimulai jika kalian masih ramai! ” perintah dari salah seorang guru yang selalu membantu para siswa berbaris. Ah, tepatnya mencoba membuat para siswa diam. Namun, kadang tak berhasil. 
“ Sabar, Bu. Itu lho yang depan juga belum benar barisnya! “ gumam salah satu siswa kelas 12 IPS. “Wong ya yang depan nggak benar barisnya yang di marahin barisan belakang, ” gumamnya semakin menohok.
“Sudah, Vi. Kamu kayak nggak tahu Madamme. Nada suaranya memang begitu, “ ucapku mencoba meredakan emosi.
************************************************************************
Hari – hari Tatik di isi dengan berjualan sepulang sekolah di bantu dengan adiknya, Bagus. Mereka merasakan betapa sulitnya mencari sepeser uang. Yang terkadang justru di sepelekan oleh segelintir orang. Mereka sangat menghargai dan merasa bersyukur berapapun uang yang di peroleh dari kerjankeras mereka. Andai semua orang seperti itu.
“Yah, aku kok ngrasa ada yang ganjel yo? “ cerita Tatik pada sahabatnya.
“Ganjel kenapa? “ tanya Dyah.
“Yo nggak tahu. Aku jadi kepikiran Ibu terus je, “ ungkap Tatik penuh keheranan.
“Mending sekarang sholat dhuhur biar ayem, “
            Akhir – akhir ini Bu Yuyun mengalami masalah dalam kesehatannya. Sering batuk. Sering sakit pinggang pula. Setiap hendak di bawa ke dokter beliau selalu menolak. Alasannya tak punya uang. Jadilah ibu di periksa oleh Pak Mantri. Petugas kesehatan desa.
            “Pak, sebenarnya saya sakit apa? “ tanyanya dengan cemas.
            “Mmm... maaf Bu, menurut diagnosa saya, Ibu mengidap penyakit gagal ginjal, “ jawab Pak Mantri. Mukanya murung. Tak seperti biasanya ketika banyak pasien datang yang menyebabkan ia punya banyak penghasilan.
            “Apaaa???? Astaghfirullahaladzim, Ya Allaaahhh, “ mulai meneteskan mata. Tak kuasa. Tak percaya. Beliau masih ragu. Masih mencoba mengelak.
Dengan uang seadannya ia pergi ke suatu tempat. Besar, berwarna putih. Banyak perawat disana. Tepat! Rumah Sakit Umum Magelang. Tentu saja untuk memastikan mengenai penyakit jahanam itu.
Tertohoklah ia. Ternyata itu benar. Amat sangat benar. Diagnosa tepat. Ia tak bisa mengelak. Sungguh sulit baginya. Sepanjang jalan ia hanya menangis. Bukan untuk meratapi penyakitnya melainkan jika tiba – tiba Allah SWT memanggil Bu Yuyun untuk pulang. Bagaimana dengan anak – anak?
Ibu itu terus menerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah ia akan mati satu menit kemudian? Atau ada donatur yang bersedia membiayai pengobatan? Ataukah ia harus menjual rumah dan anak – anak akan terlantar? Tidak.. tidak. Ah entahlah, semua pertanyaan itu merusak pikiranya. 
“Astaghfirullahaladzimm. Bu, Ibuuuuuu. Tolooongggg!!!!!! “ teriak Tatik yang mendapati ibunya telah pingsan dapur. Saat itu Bagus tidak ada dirumah. Ia sedang belajar bersama teman – temannya.
“Ana apa Tik? “ tanya tetangga dengan paniknya.
“Ibu semaput Budhe. Tolong di bawa ke rumah sakit, “
“Sek sebentar Nduk, Budhe tak telfon Pakdhe supaya langsung ke rumah sakit. Kamu siap – siap dulu, “ pinta Budhe dengan nada panik. Tanpa menjawab, Tatik bergegas.
Tatik dan Budhe membawa Bu Yuyun ke rumah sakit dengan bantuan beberapa tetangga lainnya.  Tatik menangis. Takut sesuatu hal terjadi pada ibu. Tatik segera mengubah pikirannya. Agar tak berburuk sangka lagi pada Allah. Menangkis semua asumsi yang terlintas.
“Dok bantu saya. Tangani Ibu. Saya mohon dokter, “ pinta Tatik pada dokter.
“Sabar Dik, akan segera kami tangani. Adik silakan mengurus administrasi terlebih dahulu, “ di temani Budhe, Tatik berlari ke administrasi. Ia hanya mengandalkan jaminan dari pemerintah, BPJS. Mengingat Tatik dan keluarga bukan dari golongan pejabat tinggi atau orang mapan.
“Keluarga Ibu Yuyun, “ panggil seorang perawat dari pintu UGD.
“Iya Mbak, saya anak dari Bu Yuyun, bagaimana Ibu saya? “
“Maaf Dik, kami sudah berusaha semampu kami, “ ucap Dokter dengan kalimat implisitnya.
“Maksudnya apa Dok???????!!!? “ tanya Tatik dengan tangisan yang tak dapat di hentikan.
“Nyawa Ibu tak tertolong. Maaf, “
“Ibuuuuuuuuuuuuuuuu!!!! “ teriak Tatik yang sembari masuk UGD. Tangisan Tatik membludak. Ia tak dapat berhenti. Ia tak percaya. Mencoba menolak. Mencoba membangunkan sang ibu namun tak kunjung bergerak. Dia pikir hanya halusinasi saja. Tapi tidak, kuasa Allah lebih kuat di banding manusia.
********************************************************************
Beberapa minggu setelah kepergian Ibu, Tatik masih saja enggan keluar dari kamar Ibu. Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Menolak dan enggan melakukan apapun.
“Ibbuuuuuuu!“ tiba – tiba ia seperti memanggil seseorang yang sudah pergi. Melengking, keras.  Namun, kemudian hilang ditelan parau. Ia masih saja menangisi. Ia terpukul keras.
“Bagaimana aku bisa bekerja? Lulus SMA pun belum. Adikku juga perlu sekolah. Apakah aku harus berhenti sekolah? Atau sekolah sembari bekerja?“ pertanyaan itu selalu muncul dan ia tak bisa berbuat banyak. Ia terus mendekatkan diri pada Allah, begitu pula Bagus.  
Dia seperti gila memikirkan semua sendiri. Ia hanya bercerita kepada Bagus. Tapi justru kadang membuatnya semakin pusing.
“Cukup! Tak ada yang dapat diubah. Yang ada, aku harus bekerja keras agar aku mampu membanggakan orang tuaku di alam sana, “ ia berbisik pada dirinya.
“Apa aku ke panti asuhan saja? Agar aku dan Bagus juga terurus. Kami sudah tak punya siapa – siapa lagi. “ ucap lirih Tatik.

Segera ia ke panti asuhan berharap di sana ia dapat menenangkan pikirannya. Untung – untung diadopsi oleh sepasanag suami istri atau donatur yang sanggup membiayai dirinya dan Bagus.